Minggu, 06 Desember 2015

BERMAIN SEKS DENGAN KAKAK KU PART I



Kisahku ini berlangsung lantaran saya kerap mengintip kakaku cewek yang sukai dengan masturbasi, selain itu kakaku nyatanya cewek lebian saya mengintip terkadang sukai bermain dengan sesama type, agar lebi serunya kita simak narasi di bawah ini.


Perkelanalkan namaku Dedi saya mahasiswa PTS di kota Bandung serta saat ini masih tetap semester 2 jurusan yang saya ambillah TI dari awal kuliah saya tinggal berbarengan kakaku Endah usiaku terpaut enam th., dia memanglah bukan kakak kandungku namun bagiku dia yaitu sosok yang perhatian serta kami jauh dari orangtua.
Rumah yang kami menempati, baru setahun dibeli kak Endah. Tak terlampau besar memanglah, namun kian lebih cukup buat kami tinggali berdua. Sekurang-kurangnya tambah baik daripada kost-kostan. Kak Endah sekarang ini bekerja disalah satu KanCab bank swasta nasional. Walau usianya baru 28 th., namun bila telah berseragam kantornya, ia terlihat dewasa sekali. Berwibawa serta tangguh. Matanya jernih serta jelas, hingga menonjolkan kecantikan alami yang dipunyainya.
Dua bln. pertama saya tinggal dirumah kak Endah, seluruhnya jalan normal. Saya serta kak Endah sama-sama menyayangi seperti adik serta kakak. Pengahasilan yang lumayan besar sangat mungkin ia menangung semua kepentingan kuliah ku. Memanglah mulai sejak masuk kuliah, praktis semua cost dijamin kak Endah.
Tetapi dari seluruhnya kekagumanku pada kak Endah, satu hal yang saya herankan. Selama ini saya tak lihat kak Endah mempunyai jalinan khusus dengan laki-laki. Kupikir kurang apa kakaku ini? cantik, sehat, cerdas, berpendapatan mapan, kurang apa lagi?
Kerapkali saya menggodanya, namun dengan cerdas ia senantiasa dapat mengelak. Ujung-ujungnya ia juga bakal katakan, “Gampang deh masalah itu, yang utama karir dulu…! ”, saya yakin saja dengan kata-katanya. Yang pasti, saya menghomati serta mengaguminya sekalian.
Sampai disuatu malam. Waktu itu saat memberikan jam 9. 00, situasi rumah lengang serta sepi. Saya keluar dari kamarku dilantai atas, lantas turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan, walau sebenarnya umumnya kak Endah asik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya.
Lantaran cemas pintu rumah belum dikunci, lantas saya mengecek pintu depan, nyatanya telah dikunci. Sembari bertanya-tanya di dalam hati, saya punya maksud kembali pada kamarku. Tetapi mendadak terlintas dipikiranku,
“kok sesore ini kak Endah telah tidur? ”, lantas 1/2 iseng perlahan-lahan saya coba mengintip kak Endah di dalam kamar lewat lubang kunci.
Agak kesusahan lantaran anak kunci menancap dilubang itu, tetapi dengan lubang kecil saya masih tetap bisa lihat kedalam.
Dadaku berdegup kencang, serta lututku mendadak gemetar. Pada yakin serta tak pada apa yang kulihat. Kak Endah menggeliat-geliat di atas spring bad. Tanpa ada baju sehelaipun!!!
Ya Ampun! Ia menggeliat-geliat ke sana kemari. Kadang-kadang terlentang sembari mendekap bantal guling, sesaat ke-2 kakinya membelit bantal guling itu. Lalu posisinya beralih lagi, ia menindih bantal guling.
Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, serta tak tahu terlebih namanya. Sekuat tenaga saya tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sebentar, pikiranku sungguh kacau, tidak tahu apa yang perlu kuperbuat. Tetapi lalu rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Endah masih tetap menindih batal guling.
Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lantas lalu dengan posisi agak merangkak ia menumpuk serta memiringkan bantal serta guling, lantas mencapai langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali saya mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Ngapain lagi tuh?!!, saya tertegun.
Tak tahu mengapa, rasa takut serta jengah perlahan-lahan bertukar dengan geletar-geletar badanku. Tanpa ada sadar ada yang memanas serta mengeras dibalik training yang saya gunakan. Saya meremasnya perlahan-lahan. Ahhh…
Saat kembali saya mengintip ke kamar, kulihat Kak Endah mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal itu, sampai posisinya betul-betul seakan menunggangi tumpukan bantal itu.
Lantas badannya terlebih sisi pinggul bergoyang goyang serta bergerak-gerak lagi, tiap-tiap goyangan yang dikerjakanya dengan cara reflek bikin saya makin cepat meremas batang kemaluanku sendiri. Tak tahu berapakah lama saya melihat perilaku kak Endah di dalam kamar.
Nafasku memburu, terlebih pada saat saya lihat gerakan kak Endah yang makin cepat. Mungkin saja ia akan meraih orgasme, serta benar saja, sebagian waktu lalu badan kak Endah terlihat berguncang sebagian waktu, jemari kak Endah mencengkram seprai.
Saya tidak tahan lagi. Bergegas saya menuju kamarku sendiri. Lantas kukunci pintu. Kumatikan lampu, lantas berbaring sembari memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun saya laki-laki normal. Saya rasakan gelombang birahi menyala serta makin menyala di dalam badanku.
Serta semakin lama semakin membara. Ah… saya tidak tahan lagi. Dengan tangan gemetar saya buka semua baju yang kukenakan, lantas saya berguling-guling di atas spring bad sembari mendekap bantal guling. Saya merintih serta mendesah sendirian. Di antara desahan serta rintihan saya menyebut-nyebut nama kak Endah. Saya memikirkan tengah berguling-guling sembari mendekap badan kak Endah yang putih mulus. Pikiranku betul-betul tak waras.
Saya memikirkan badan kak Endah saya gumuli serta kuremas remas. Sungguh saya tak tahan, dengan sensasi serta imajinasiku sendiri, saya merintih serta merintih lantas mengerang perlahan-lahan bersamaan cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal guling. (Besok mesti membersihkan sarung bantal…masa bodo…!!!!)
Mulai sejak peristiwa malam itu, pandanganku pada kak Endah alami pergantian. Saya tak saja memandangnya juga sebagai kakak, kian lebih itu, saya saat ini lihat kak Endah juga sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik! wanita cantik serta seksi tentu. Ah…….! (maafkan saya kak Endah!)
Kadang-kadang saya terasa berdosa pada saat saya mencuri-curi pandang. Saat ini saya senantiasa memerhatikan bagian-bagian badan kak Endah. . ! kenapa baru saat ini saya mengerti bila badan kak Endah sedemikian putih serta moligh. Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu.
Ah lehernya terlebih, mhhh terasa mau saya dipeluk serta membenamkan muka dilehernya.
“Hei, mengapa melamun saja? Mari makan rotinya! “, kata kak Endah sembari menuangkan air putih isi gelas di hadapanya, lantas meneguknya perlahan-lahan.
Air itu melalui bibir kak Endah, lantas bergerak ke kerongkonganya…. Ahhh mengapa saya jadi memerhatikan beberapa hal detil seperti ini? 



“Siapa yang melamun, orang lagi …. ammmm mmm enak nih, selai apa kak? ”, saya mengalihkan perhatian saat ke-2 bola mata kak Endah menatapku dengan pandangan aneh.
“Nanas! itu kan selai kesukaanmu. awas abisin yah! ”, kak Endah bangkit dari tempat duduknya lantas jalan membelakangiku menuju wastafel untuk membersihkan tangan.
“OK, tenang saja! ”, mulutku penuh roti, namun pandangan mataku tidak berkedip melihat pinggul kak Endah yang dibungkus baju dinasnya. Alamak, betisnya sedemikian putih serta mulus…
“Kamu tidak pergi kemana-mana kan? “, kata kak Endah. Hari sabtu saya memanglah tidak ada mata kuliah.
“Enggak…! ”, kataku sebentar saat sebelum meneguk air minum.
“Periksa seluruhnya kunci rumah ya Ted jika ingin pergi. Tempo hari di blok C11 ada yang kemalingan….! ”.
“Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sembari membereskan piring serta gelas sisa sarapan kami.
Sebagian waktu lalu nada mobil terdengar keluar garasi. Lantas nada derikan pintu garasi ditutup. Serta saat saya keteras depan, Honda Jazz warna silver itu berlalu meninggalkan pekarangan.
Sesudah meyakinkan kak Endah pergi, saya lalu mulai mencermati atap serta jarak antar ruang. Mulai sejak tempo hari saya sudah mempunyai satu gagasan.
Saya ingin menempatkan Mini Camera kekamar kak Endah, agar dapat on-line ke TV dikamarku, he he!.
Satu bulan berlalu, otakku betul-betul sudah rusak.
Saya senantiasa menanti saat-saat di mana kak Endah bermasturbasi. Dengan bebas saya lihat Live Show, melalui mini kamera yang sudah kupasang dilangit-langit kamar Kak Endah. Aman! selama ini kak Endah tidak mengerti bahwa semua gerak-geriknya ada yang mencermati.
Benar rupanya hasil survai suatu instansi bahwa 60 persen dari wanita lajang lakukan masturbasi. Bila kuhitung bahkan juga ka Endah melakukanya satu minggu 2 x. Pasti tak lewatkan! malam rabu serta malam minggu.
Kasihan kak Endah. Ia harusnya memanglah telah berumah tangga. Namun biarlah, kak Endah toh telah dewasa, ia pasti tahu apa yang dikerjakannya. Serta yang terutama saya mempunyai suatu hal untuk kunikmati. Bila kak Endah mengerjakannya dikamarnya, pasti saya juga. Ahh….
Kerapkali ditengah kekacauan pikiranku, mau terasa saya bergegas kekamar kak Endah saat kak Endah tengah menggeliat-geliat sendiri.
Saya mau membantunya. Sekalian menolong diriku sendiri. Tidak usah beneran, cukup sama-sama buat happy saja. Namun saya tidak berani. Apa kata dunia?
Malam ini. Saya tidak sabar lagi menanti, telah nyaris jam sembilan. Namun kok tidak ada tanda-tandanya. Kak Endah masih tetap asik nongkrongi TV diruang tengah. Saya lalu bergegas keluar rumah punya maksud mengunci gerbang.
“Mau kemana Ted? ”,
“Kunci gerbang ah, telah malem! ”, kataku sembari menggoyangkan anak kunci.
“Jangan dahulu dikunci, teman kak Endah ada yang ingin ke sini! ”,
“Mau ke sini? siapa kak? ”,
“Santi…yang dahulu itu lho! ”,
“Ohh…! ”, saya coba mengingat. Sinta? ah saat bodo… namun jika dia ke sini, jika dia nginep, bermakna …? Yah…! hangus deh.
Saya bergegas kembali kedalam. Serta saat saya menaiki tangga ke lantai atas, HP kak Endah berdering. Kudengar kak Endah bicara, rupanya temannya si Sinta brengsek itu telah ingin datang. Huh!
Saya nyaris saja ketiduran. Atau mungkin saja memanglah ketiduran. Kulihat jam memberikan jam 10. 30 malam, ya ampun saya memanglah ketiduran.
Bersihkan muka di wastafel, lantas saya ambillah bekas kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin namun lumayan dari pada tidak ada. Lantas seteguk air putih. Lantas sebatang Class Mild.
Serta, asap penuhi ruangan kamar. Kubuka jendela, membiarkan hawa malam masuk kekamarku. Sepi. Temannya kak Endah telah pulang kali?!.
Kunyalakan TV, namun nyaris semua chanel menjengkelkan, Kuis, Banyolan, Ketoprak, Sinetron Mistery, fffpuih! kuganti-ganti channel namun memang seluruhnya chanell menjengkelkan, lantas kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?!
Ya ampun! sungguh panorama yang menjijikan. 

Apa yang bakal dikerjakan kak Endah serta rekannya itu. Saya geleng-geleng kepala, ada rasa geram, jengkel. Saya tak menganggap bila kak Endah nyatanya suka pada sesama type (Lesbian).
Apa kata Ibu. Ya ampuuuuun…!
Kumatikan TV. Saya termenung sebagian waktu.
Saya ambillah gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Saya butuhkan air digelas besar hingga tetes paling akhir.
Tapi…., saya tekan lagi tombol power TV, Upps… masih tetap On Line! Saya lihat kak Endah dengan rekannya berbaring miring bertemu. Saya meyakini mereka tanpa ada baju. Walau berselimut, sisi pundak mereka yang tidak tertutup memberikan bila mereka tidak kenakan pakaian. Mereka sama-sama memandang serta tersenyum.
Tangan kiri kak Sinta mengelus-elus pundak kak Endah. Sesaat kuperhatikan tangan kak Endah kelihatannya mengelus-elus pinggang kak Sinta, tak terlihat memanglah namun beberapa gerakan dari balik selimut memberikan hal semacam itu.
Lama sekali mereka sama-sama pandang serta sama-sama tersenyum. Mungkin saja mereka juga sama-sama bicara, namun saya tidak mendengarnya lantaran saya tak menempatkan Mini Camera dengan Mic.
Perlahan-lahan kepala kak Sinta mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut serta menelusuri punggung kak Endah. Saya Cemburu! Mereka berciuman dengan penuh perasaan, perlahan-lahan sama-sama mengulum serta melumat. fffpuih! Nyatanya betul-betul ada pekerjaan pria yang dikerjakan oleh wanita.
Untuk sebagian waktu mereka berciuman serta sama-sama meraba. Saya jadi menahan nafas. Mungkin saja saya juga ketularan tak waras, terasa ada satu gairah yang perlahan-lahan bangkit di dalam badanku. Bahkan juga, saya mulai mendidih!
Sebentar kak Sinta terlihat menelusuri leher kak Endah dengan bibir serta lidahnya, saya menyeka leherku sendiri.
Tak tahu mengapa saya terasa merinding nikmat. Terlebih lihat ekpresi kak Endah yang pasrah tengadah, sesaat kak Sinta dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga.
Saya tidak tahan lihat kak Endah diperlakukan seperti itu. Sesudah mematikan lampu, saya lalu beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sesaat mataku tidak terlepas dari monitor TV.
Kondisi makin seru, kak Endah saat ini yang beraksi, ia terlihat agak terlampau tergesa-gesa. Dengan penuh nafsu ia menjilati serta menciumi leher kak Sinta yang saat ini terlentang ditindih kak Endah. Kepala kak Sinta mendongak-dongak, saya meyakini ia tengah rasakan gelenyar-gelenyar nikmat dilehernya.
Lalu kak Endah beralih menciumi dada kak Sinta, saat ini baru terlihat terang muka kak Sinta. Ia nyatanya cantik sekali, bahkan juga sedikit lebih cantik dari kak Endah. Ah saya terangsang. Benjolan di balik kain sarung yang kukenakan semakin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, hingga butuh kuluruskan.
Kak Endah betul-betul beraksi, ia menciumi serta melahap payudara kak Sinta. Muka kak Sinta mengernyit, serta mulutnya terbuka, terlebih saat kak Endah mengemut putting susunya. Ia Menggeliat-geliat sesaat ke-2 tangannya mendekap kepala kak Endah.
Bertukaran kak Endah mengerjai ke-2 payudara kak Sinta. Kak Sinta menggeliat-geliat. Makin liar, apalgi saat kak Endah menyelusup ke selimut.
Mendadak kepala Kak Endah nampak lagi dari balik selimut, tengadah mungkin saja ia tersenyum atau tengah menyampaikan suatu hal, lantaran kulihat kak Sinta tersenyum, lantas suatu kecupan mendarat dikening Kak Endah.
Tidak lama kemudian kak Endah menghilang lagi ke selimut. Kak Sinta terlihat membenarkan posisi tubuhnya, selimutnya juga dirapihkan, saya tidak bisa lihat apa yang tengah dikerjakan kak Endah, namun menurut perkiraanku kepala kak Endah pas di antara selangkangan kak Sinta. Tak tahu apa yang tengah dikerjakannya.
Tetapi yang tampak, kak Sinta mendongak-dongak, ke-2 tanganya meremas-remas kepala kak Endah. Kepala kak Sinta bergerak kekanan serta kekiri. Badannya juga menggelinjang ke sana sini. Keadaan seperti itu berlalu cukup lama.
Saya keringatan. Nafasku memburu. Tanpa ada sadar kubuka kaus yang kukenakan, lantas kulemparkan kain sarungku. Kemaluanku mengeras, menuntut diperlakukan seperti harusnya. Ah… edan!
Mendadak saya saksikan kak Sinta mengejang sekian kali. Pinggulnya mengangkat, ke-2 pahanya menjepit kepala kak Endah. Mengejang lagi, sesaat kepalanya mendongak kekanan serta kiri. Ia terengah-engah, lantas tidak lama kemudian terdiam.
Matanya terpejam. Lalu kak Endah nampak dari balik selimut, ia terlihat mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Sinta terungkap karena itu.
Kak Sinta lalu mencapai ke-2 bahu kak Endah, mendaratkan kecupan dikening, pipi kanan serta kiri kak Endah, lantas merangkul kak Endah ke pelukannya. Sebagian waktu mereka berpelukan. Saya yang melihat peristiwa itu cuma bisa menahan napas, sesaat tangan kananku meremas-remas serta mengurut kemaluanku sendiri.
Serta, lalu mereka terlihat terlibat perbincangan lagi, lantas kak Endah membaringkan tubuhya. Terlentang. Kak Sinta menarik selimut, lantas singkirkannya jauh-jauh.
Kak Endah terlihat memprotes, namun memprotes kak Endah dibalas dengan lumatan bibir kak Sinta. Badan kak Sinta menindih badan kak Endah. Saya lihat, dengan mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua badan indah dengan kulit putih mulus, tanpa ada baju, tanpa ada penutup apa pun.
Sama-sama menyentuh. Kak Sinta saat ini yang melakukan tindakan aktif, ia saat ini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, payudara kanan serta kiri.
Kak Endah terlihat pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Sinta terlihat lebih trampil dari kak Endah, nyaris tiap-tiap inci badan kak Endah dijilati serta dikecupnya. Bahkan juga saat ini ia menelusuri pangkal paha kak Endah dari arah perut serta selalu bergerak ke awah. Kak Endah akan bangun, ke-2 tanganya seakan menahan kepala kak Endah yang selalu bergerak ke bawah, tak tahu mungkin saja lantaran geli atau nikmat yang teramat sangatlah. Namun tangan kak Sinta menahanya, pada akhirnya kak Endah menyerah. Dihempaskannya badannya ke atas spring bad.
Kak Sinta saat ini menciumi paha, lutut, bahkan juga telapak kaki kak Endah. Tangan kanan kak Endah mengusap-usap kemaluannya, sesaat jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat.
Badan kak Sinta lalu beralih lagi. Ia saat ini sudah siap ada di antara paha kak Endah. Kak Sinta menarik bantal serta meletakannya, di bawah pinggul kak Endah, hingga badan sisi bawah kak Endah semakin terangkat. Kepala kak Endah terjepit persis di antara selangkangan kak Endah.
Samping tangannya meremas-remas payudara kak Endah. Saya saksikan badan kak Endah mengelinjang-gelinjang. Tidak sadar saya ikut merintih. Makin kak Endah menggelinjang, nafasku makin memburu. Badanku saat ini mendekap serta mengesek-gesek bantal guling, serta batang kemaluanku menggesek-gesek ujungnya.
Nikmat, tak tahu apa yang saat ini ada di dalam pikiranku. Yang pasti saya ikut larut dalam kondisi pada kak Endah serta kak Sinta.
“Kak Endahii… kak Sinta……, ini Dedi… asssshhh.. ahh kak…aku juga..! ”, saya merintih serta selalu merintih.
Makin lama kak Endah kulihat makin liar, tubuhnya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya. Ke-2 tangannya menangkup kepala kak Sinta.
Makin lama gerakan kak Endah makin liar, lantas pessss, TV mendadak padam. Sialan! lampu di luar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan! Brengsekkkkkk!!!
Saya terengah-engah, dalam kegelapan. Telah kadung mendidih, saya lanjutkan aksiku walau tanpa ada sensasi visual. Saya merintih serta mendesah sendiri dalam kegelapan. Saya meyakini di sana kak Endah serta kak Sinta juga tengah merintih serta mendesah, juga dalam kegelapan.
Dor! Dor! Dor!
“Dedi… bangun, telah siang! “, nada ketukan atau tak tahu gedoran pintu bangunkan saya. Rupanya telah siang.
“Bangun…! ”, nada kak Endah kembali terdengar.
“Iya..! telah bangun…”, teriakku. Lantas terdengar langkah kaki kak Endah menjauh dari pintu kamarku.
Ya ampun! saya terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Serta bantal guling…, bergegas saya buka sarungnya. Wah nembus!
Dengan tergesa-gesa kurapikan kamarku, jam memberikan jam 8 pagi.
Bila tak cemas mendengar kembali teriakan kak Endah yang menyuruh sarapan mungkin saja saya pilih untuk tidur lagi. Pada akhirnya saya keluar kamar, mengambil handuk, serta bergegas kekamar mandi. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar